Home

Juni 20, 2012

Kisah Kontroversi Kondom di Belahan Dunia



Nafsiah Mboi membuat gebrakan di hari-hari pertama tugasnya sebagai Menteri Kesehatan: meningkatkan kampanye kondom pada kelompok seks berisiko. Tujuan Bu Menkes sejatinya baik, untuk menekan angka HIV/AIDS yang masih tinggi, juga angka aborsi yang memprihatinkan di kalangan remaja, yang versi BKKBN hingga 2,3 juta di tahun 2010.

Namun, strategi tersebut ditentang sebagian orang, dianggap melegalkan perilaku seks bebas alias zina. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan akan mengajukan surat protes ke presiden, jika ini adalah program kerja pemerintah.

Kontroversi soal kampanye kondom tak hanya terjadi di Indonesia. Pada 2010 lalu, Pemerintah Filipina mengkampanyekan penggunaan kondom di televisi, radio, media cetak, dan di tempat umum. Di distrik-distrik Manila, ribuan kondom dibagikan gratis.

Kegiatan tersebut ditentang pemuka Katolik yang meminta uang publik tak digunakan untuk kondom. Uskup dan organisasi pro-kehidupan memperingatkan risiko kampanye kondom untuk para anak muda seraya mendukung peran orang tua dalam pendidikan moral dan pendidikan seks pada anak-anaknya.

"Sumber daya yang ada sebaiknya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan, pendidikan, dan membuka lapangan kerja," kata  Nereo Odchimar Ketua Konferensi Uskup Filipina, seperti dimuat AsiaNews.it. "Yang terpenting, tak adil jika pajak masyarakat, termasuk umat Katolik digunakan untuk inisiatif yang bertentangan dengan moralitas," kata dia. Pantang seks bebas dan setia dalam ikatan perkawinan dianggap sebagai jurus paling jitu.

Sementara, Ariel Valenciam Direktur Kampanye Departemen Kesehatan wilayah Visayas Barat menekankan, tujuan kampanye ini adalah memberdayakan masyarakat dalam pencegahan HIV/AIDS. "Tidak ada maksud untuk mempromosikan seks bebas, tapi menyebarkan perilaku seksual yang bertanggung jawab."

Sensitif

Demikian juga di Kenya. Program pembagian kondom untuk melawan pandemik dan KB di tahun 2008 ditentang para ulama. "Banyak uang dibuang sia-sia untuk meracuni masyarakat kita. Dana dalam jumlah besar dikeluarkan untuk membeli kondom, membeli imoralitas," kata Syeik Mohamud Ali, dari Distrik Garissa kepada IRIN/PlusNews.

Para ulama optimis, khotbah yang aktif bisa menggantikan fungsi kondom sebagai strategi mencegah pandemik juga kehamilan. Mereka juga sepakat, melaksanakan ajaran Islam seperti berpuasa, salat, dan mengucilkan mereka yang selingkuh lebih efektif. Para pria juga diminta menghindari menatap perempuan -- yang juga wajib berpakaian sopan.

"Kami tak menentang kampanye Kementerian Kesehatan melawan HIV/AIDS tapi kami khawatir mereka menggunakan cara salah yang menyalahi tradisi dan agama," kata Ali.

Sebaliknya, keputusan para ulama justru dikhawatirkan para pekerja kesehatan. Menurut pejabat dinas kesehatan, Dr Osman Warfa kondom sangat penting untuk melawan pandemik, seperti HIV/AIDS. "Yang dikhawatirkan, kini anak muda punya alasan untuk menolak kondom saat melakukan seks bebas. Ini bisa membahayakan."

Sementara di negeri jiran, pemerintah Malaysia pada tahun 2007 mengaku tak bisa secara terbuka menganjurkan kondom untuk mencegah AIDS. Meski meyakini, itu adalah cara yang efektif.

"Beberapa orang mungkin salah menginterpretasikan kami mempromosikan seks bebas. Jadi kami tak bisa terbuka, kami harus sensitif terhadap ajaran agama," kata pejabat Kementerian Kesehatan kala itu, Jalal Hakil Khalil seperti dimuat Pravda.

Parade dan kampanye massa kampanye penggunaan kondom atau mendiskusikan seks, seperti yang dilakukan di negara tetangga, Thailand masih tabu di Malaysia.

Pemerintah Inggris diprotes

Kampanye penggunaan kondom yang dilakukan Departemen Kesehatan Inggris pada tahun 2009 juga menuai protes. Gara-gara kalimat, "kondom membuat perempuan terlihat lebih seksi".

Kalimat tersebut menyertai kampanye agar para perempuan muda, usia awal 20-an, mau membawa kondom di tasnya. Pria, kata kampanye itu, lebih tertarik pada gadis yang membawa alat kontrasepsi.

Inisiatif yang diluncurkan Menteri Kesehatan saat itu, Dawn Primarolo juga memberi petunjuk pada perempuan muda bagaimana membujuk pria untuk menggunakan kondom.

"Saya menerima bahwa kondom memiliki peran dalam memerangi infeksi seksual menular," kata salah satu pengkritik sekaligus anggota parlemen saat itu, Brazier Julian. "Tapi yang menyedihkan, mereka tak memahami masalah diawali dengan meningkatnya aktivitas seksual yang berganti-ganti pasangan," kata dia.

Dia menambahkan, kampanye macam ini berkontribusi menambah masalah daripada kesehatan masyarakat.

Sementara, penulis tentang kehamilan remaja, Patricia Morgan mengatakan, kampanye dengan cara itu sama saja dengan menyuruh gadis muda ke sebuah tempat dengan pengumuman 'tersedia' di dahinya. "Ini sangat brutal, justru akan menambah penyakit seksual, lebih banyak kehamilan di luar nikah, dan lebih banyak ketidakbahagiaan."

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar