Home

April 25, 2011

Relativitas Bahagia


Setiap manusia memiliki obsesi untuk meraih kebahagiaan dalam segala aspek kehidupannya, baik dunia maupun akhirat; baik lahir maupun batin. Keinginan tersebut merupakan hal yang wajar dan manusiawi dan bahkan Islam menganjurkan untuk membaca doa:rabbanâ âtinâ fiy al-duniâ hasanah wa fiy âkhirah hasanawa qinâ ‘azâb al-nâr (ya Tuhan kami! berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).
Tidak sebatas kebahagiaan di dunia, tapi lebih penting lagi mencapai kebahagiaan di akhirat. Secara lahir, manusia bekerja dengan berbagai profesi untuk mencapai kebahagiaan. Secara batin, manusia berusaha untuk mendapatkan ketenangan batinnya dengan berbagai cara pula.

Masalah kebahagiaan sudah banyak dibicarakan, bahkan dipersoalkan, baik kalangan agamawan maupun ilmuan, termasuk filosof. Socrates mengatakan bahwa tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan. Dalam hal ini Socrates tidak pernah mempersoalkan apa yang dimaksud dengan kebahagiaan itu sendiri. Muridnya Plato mencoba memberikan gambaran bahwa manusia disinari dengan idea kebaikan, siapa yang tahu akan yang baik tidak dapat menyimpang dari itu, dan siapa yang telah hidup di alam idea tidak dapat berbuat jahat, jadi jalam menuju kebahagian ialah dengan menanampakan idea dalam pikiran dan gerak.

Menurut Aristoteles, kebahagiaan merupakan tujuan akhir manusia, karena apabila telah bahagia manusia tidak memerlukan apa-apa lagi. Ia menyebutkan kebahagiaan itu merupakan ketenangan yang dicapai manusia menurut kehendak masing-masing. Salah seorang filosof modern, Descartes, menjelaskan pula bahwa kebahagaian tertinggi ialah ketentraman jiwa yang sempurna.

Pembicaraan tentang bahagia juga dapat ditemukan dalam bahasan filsafat Islam. Ibn Maskawaih minsalnya, berpendapat bahwa kebahagiaan meliputi jasmani dan rohani karena dalam diri manusia terdapat kedua unsur tersebut. Bagi manusia yang terikat oleh materi, lalu mendapatkan kebahagiaan darinya, ia tetap rindu dengan kebahagiaan rohani dan berusaha meraihnya. Dan bagi manusia yang melepaskan diri dari materi memperoleh kebahagiaan rohani. Selama manusia masih terikat oleh materi manusia belum bisa mencapai kebahagiaan rohani. Sementara itu menurut al-Gazali  tujuan manusia adalah kebahagiaan ukhrawiy (akhirat). Kemulian dalam penilaian Allah terletak pada usaha mencapai kebahagiaan ukhrawiy. Kebahagiaan tertinggi ialah berada dekat dengan Allah.

Sepertinya para filosof menghendaki bahwa kebahagiaan adalah kebaikan sempurna yang menyingkirkan gelora nafsu atau keinginan yang terpuaskan karena disadari memiliki susuatu yang baik, dan dikehendaki terjadi terus menerus. Sehingga tidak salah ketika al-Gazali menawarkan kebahagiaan ukhrawi sebagai suatu yang dicitakan dan akan terjadi secara terus-menerus.

Terlepas dari pendapat filosof di atas, setiap manusia mempunyai persepsi tentang kebahagiaan dan keberuntungan yang diinginkannya. Orang miskin akan merasa bahagia apabila memperoleh kekayaan; orang sakit akan merasa bahagia apabila mendapat kesembuhan, dan seterusnya. Hal ini menggambarkan bahwa kebahagiaan menurut pandangan manusia merupakan aspek yang sangat subjektif.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar