Home

April 18, 2011

Berlemah Lembut

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki banyak nama-nama yang Agung yang sekaligus merupakan sifat-sifatNya yang Agung pula. Nabi adalah sosok manusia Agung yang telah memahamkan sifat-sifat Allah yang Agung itu, sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan beliau sehari-hari, untuk kemudian mengajarkannya kepada ummat Beliau. Beruntunglah orang-orang yang mengikuti tunjuk ajar Baginda Rasul itu. Allah sendiri dalam Al-Qur’an telah memuji Beliau dengan firman-Nya,  “ Sesungguhnya engkau (Rasulullah) memiliki budi pekerti yang Agung” (surat Al-Qalam ayat 4).

Siti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, isteri terkasih beliau ketika ditanyai tentang bagaimana budi pekerti Rasul dalam kehidupan Baginda sehari-hari, maka dengan tegas, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab:“Budi pekerti Rasul sejalan dengan Al-Qur’an”. Dalam hadis lain Rasul bersabda: “ Sesungguhnya aku diutus agar bersikap lemah lembut….”
Ada banyak sifat-sifat Rasul yang mulia, dan di antara sifat-sifat yang mulia itu adalah lemah lembut. Mungkin tidak ada manusia yang tidak menyukai sikap lemah lembut ini. Bahkan berapa banyak orang-orang yang sehari-hari memiliki tindakan yang kasar sekalipun, suka jika diperlakukan orang lain dengan lemah lembut. Memang aneh kalau dipikir. Betapa orang yang punya sikap kasar ternyata tidak suka diperlakukan kasar, dan lebih memilih diperlakukan halus dan lembut.
Bagaimana bisa demikian?
Pada dasarnya lemah lembut adalah fitrah manusia, yakni sifat dasarnya manusia.
Seluruh bayi lahir dalam kelemah-lembutan. Ibunya akan menciumnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, pada saat pertama sang ibu dapat menyentuhnya setelah sang bayi itu dilahirkan dengan menderita kesakitan yang luar biasa. Semua orang yang melihat sang bayi akan tersenyum senang dan tertawa-tawa gembira saat melihat seorang bayi yang baru lahir. Ini adalah sifat manusia yang normal, lembut dan suka pada kelembutan.
Keadaan bayi yang baru lahir memang lembut lahir batin. Tubuhnya lembut, halus, dan lunak. Suaranya juga halus, lunak dan mengharukan hati siapa saja dari manusia normal yang mendengarnya. Nabi bersabda: “Tiap-tiap bayi yang lahir suci atas fitrah” Nabi juga memerintahkan agar dikumandangkan adzan di telinga sang bayi, sesaat setelah kelahirannya. Dan, hampir semua bayi akan menangis saat mendengar adzan pada kali pertama berkumandang di telinganya. Pertanda adanya kelembutan jiwa yang mereka miliki!
Setelah hari kelahiran sang bayi, maka mulailah berperan didikan kedua orangtua sang bayi itu.  Bapaknya, dan tentu saja terutama ibunya, akan mulai memberikan ‘coretan-coretan’ pada sang bayi suci itu. Hari demi hari yang dilalui, menambahkan nilai yang ‘dicoretkan’ pada sang bayi itu. Jika ‘coretan’ yang diterimanya adalah ‘coretan-coretan’ kelembutan, maka kelak akan wujud pada dirinya karakter kelembutan pulaSebaliknya, jika ‘coretan-coretan’ yang diterimanya adalah berupa nilaikekasaran dan nilai kekerasan, maka sudah dapat dipastikan karakter yang terbentuk adalahkekerasan dankekasaran pula.
Inilah salah satu yang diajarkan Nabi betapa anak yang shalih adalah ‘harta karun’ yang tidak ternilai harganya, walau dibandingkan dengan seluruh dunia dan alam jagad raya yang akan hancur sirna tanpa bekas ini. Anak yang shalih justru akan memberikan manfaat, baik saat orangtuanya hidup di dunia, saat dalam kubur, bahkan akan menuntun kedua tangan orangtuanya masuk ke surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat kelak. Dan, di antara tanda-tanda keshalihan seseorang adalah hati yang lemah lembut, bukan hati  yang  keras membatu.
Memakai Kata-Kata Lembut Saat Berbicara
Begitu pentingnya sikap lemah lembut sehingga pada saat Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harunalaihimassalam pergi menda’wah Fir’aun laknatullah ‘alaih yang telah berani mengaku dirinya sebagai Tuhan, Allah masih berpesan kepada kedua Nabi yang mulia ini: “Maka berkatalah kamu berdua (Musa dan Harun)kepada Fir’aun itu dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia menjadi ingat atau takut.” (surat Thaaha ayat 44). Luar biasa Firman Allah ini. Kita tidak dapat membayangkan jika kepada Fir’aun laknatullah ‘alaih saja Allah perintahkan untuk memakai perkataan yang lemah lembut,  bagaimana lagi lembutnya perkataan dan sikap yang mesti kita pakai untuk berkata-kata kepada kedua  ibu dan bapak?
Allah ada berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentakmereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah memelihara aku waktu kecil.” (surat Bani Israil ayat 23-24).
Allah telah mengharamkan mengeluarkan perkataan ‘ah’ atau ‘cis’ kepada orangtua, apalagi sampaimenampar, memukul, menghina, membentak, dan menyakiti hati mereka. Rasul bersabda, “Ridho Allah tergantung pada ridho orangtua.” Setinggi apa pun kedudukan kita di mata manusia, jika menyakiti hati orangtua, maka dengan sebenarnya kedudukan kita sangat rendah dan hina di hadapan Allah.
Naudzubillah…!
Orang-orang Jawa sudah biasa dilatih untuk memakai bahasa Jawa tingkat kromo inggil (sebuah bahasa dengan nada dan kosa kata yang halus), jika hendak berbicara dengan orangtua. Sungguh beruntung orang yang masih mengamalkan ‘pusaka Wali Songo’ ini, sebuah penghormatan yang sesuai dengan perintah Allah Yang Maha Tiinggi. Adapun orang yang di luar penutur bahasa Jawa, mesti berjuang lebih khusus agar terbiasa berbicara lemah lembut dengan cara yang berbeda saat berbicara dengan orang lain dibandingkan saat berbicara dengan kedua orangtuanya. Tentu saja sebuah hal yang sulit untuk dilakukan, dan membutuhkan latihan yang memakan waktu bertahun-tahun serta kemauan yang keras. Begitu pentingnya perbuatan ini sehingga Allah meletakkan perintah-Nya untuk berlaku baik dan lemah lembut kepada orangtua setelah ayat tentang perintah menyembah Allah dengan tidak melakukan perbuatan syirik. Tidak diragukan lagi bahwa sebuah perintah Allah pastilah merupakan ibadah bila diamalkan.
Kisah Hikmah
Suatu hari Ibu susu Nabi, Halimahtussa’diyah datang ingin menjumpai Nabi, karena suku ibunda tertawan dalam satu peperangan melawan kaum muslimin. Saat sudah berada di depan kemah Nabi, Ibunda menjadi ragu-ragu untuk menjumpai Rasul. Beliau berjalan mondar-mandir di depan kemah Nabi. Sekilas Nabi melihat ibunda Halimah melintas, maka Nabi meminta sahabat beliau agar menjemput ibunda Halimah masuk.
Saat ibunda telah berdiri di depan kemah Nabi, serta merta Nabi membentangkan sorbannya di lantai tanah kemah, kemudian berdiri menyambut ibunda Halimah dengan sikap lembut dan kasih sayang. Beliau kemudian mempersilakan ibunda Halimah duduk di atas bentangan sorban, sementara Nabi duduk dengan penuh khidmat di atas tanah lantai kemah, bukan di atas bentangan sorbannya. Lihatlah betapa suri tauladan yang begitu menakjubkan telah Nabi tunjukkan atas umatnya. Begitu santunnya sikap Nabi terhadap ibu susuan Beliau.
Bagaimanakah jika yang datang itu adalah ibu kandung Nabi?
Rasanya tidak mampu kita membayangkan bagaimana perlakuan dan sikap santun yang akan Nabi lakukan jika yang datang itu adalah ibu kandung Beliau.
Sebagai orang yang telah mengaku umat Nabi, sejauh manakah sikap lemah lembut dan kasih sayang yang telah kita perlihatkan kepada kedua orangtua kita?
Berapa banyak di antara kita yang lebih mementingkan isteri dan anak dari pada kedua orangtuanya?
Tidak jarang manusia akhir zaman ini, malah ‘mengorbankan’ kedua orangtuanya demi kesenangan diri, isteri, dan anak-anaknya.
Sikap mereka lemah lembut dan takut sekali kepada isteri dan anak-anaknya, namun galak dan kejam terhadap orangtuanya.  Dan, tidak terbayangkan betapa murkanya Allah melihat sebegitu banyaknya manusia yang durhaka kepada orangtua mereka saat sekarang ini. Pantaslah kiranya jika azab Allah telah datang bertubi-tubi menghantam negeri ini tanpa berkesudahan.
Rasul ada bersabda: ”Seluruh dosa akan dibalas di akhirat, tapi dosa karena durhaka kepada orangtua akan dibalas di dunia ini terlebih dahulu, baru nanti di akhirat dilipatgandakan untuk balasan dosa durhaka itu”.
Tidakkah kita menyadarinya….?
Wallahu A’lam bishshowab.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar