Home

September 24, 2011

Khusyu dalam Shalat

http://ghifi.files.wordpress.com/2009/07/sabar-dan-sholat.jpg?w=500
Segala  puji  bagi  Allah,  shalawat  dan  salam  kepada  Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi Wassalam, dan  aku  bersaksi  bahwa  tiada  Tuhan  yang  berhak  disembah  dengan sebenarnya  kecuali  Allah,  Yang Maha  Esa  dan  tiada  sekutu  bagiNya,  dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  “Sesungguhnya  beruntunglah  orang-orang  yang  beriman  (yaitu)  orang-orang yang khusyuk dalam salatnya”.” (Al-Mu’minun: 1-2) Setelah  Allah  menyebutkan  sebagian  sifat-sifat  mereka,  kamudian  Dia menyebtukan balasan mereka:  “Mereka  itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 9-10)

Al-Hasanul Bashri rahimhullah berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:  (yaitu)  orang-orang  yang  khusyuk  dalam salatnya”.  Dia  berkata:  Mereka  khusyu’  di  dalam  hati  mereka,  maka  mereka menundukkan pandangan mereka dan bersikap merendah”.
Ibnul  Qoyyim  berkata:  Allah  menggantungkan  kemenangan  orang-orang  yang shalat dengan kekhusyu’an mereka dalam menjalankan ibadah shalat,  maka  hal  ini  menunjukkan  bahwa  orang  yang  tidak  khusyu’  dalam  menjalankan ibadah shalat maka dia tidak termasuk orang yang beruntung dan  seandainya  dia  mengharapkan  pahalanya  niscaya  dirinya  teramsuk orang-orang yang beruntung”. Makna khusyu’ adalah ketundukan, kelembutan dan ketenangan hati. Dan apabila  hati  merasakan  kekhusyu’an  tersebut  maka  anggota  badanpun mengikutinya. Sebab anggota badan ini mengikuti perintah hati.
Dari  Nu’man  bin  Basyir  Radhiallahu'anhu  bahwa  Nabi  Shallallahu 'Alaihi Wassalam  bersabda:  Ketahuilah sesungguhnya  di  dalam  badan  ini  terdapat  segumpal  daging  yang  apabila dia  baik  maka  baiklah  seluruh  jasad  dan  apabila  rusak  maka  rusaklah seluruh bagaian jasad, ketahuilah bahwa itulah hati”.Oleh karena  itulah Nabi saw berkata di dalam shalat beliau: Pendengaran, pengelihatan, otak, tulang dan uratku khusyu’ kepadaku”.
Dari  Auf  bin Malik  Radhiallahu'anhu  berkata:  Pada  saat  kami  duduk-duduk  di  sisi  Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam pada  suatu hari kemudian beliau memandang ke  langit dan bersabda: Inilah waktu diangkatnya  ilmu”,  lalu  seorang  dari  kaum Anshor  bernama: Ziad bin Labid berkata kepadanya: Apakah ilmu itu akan terangkat padahal  kami  di  tengah-tengah  kita  ada  AlQur’an  dan  kami  telah mengajarkannya kepada  anak-anak  kita  dan  istri-istri  kita  wahai  Rasulullah?.  Rasulullah saw  bersabda:  “Aku  memperkirakan  engkau  sebagai  penduduk  kota Madinah yang paling paham  terhadap agama”. Kemudian beliau menyebut kesesatan  dua  ahli  kitab  padahal  mereka  memiliki  kitab  Allah  Azza  Wa Jalla. Lalu Jubair bin Nufair bertemu dengan Syaddad bin Aus di mushalla lalu memberitahukn hadits  ini dari riwayat Auf bin Malik,  lalu dia berkata: Sungguh Auf benar-benar  jujur”. Kemudian dia bertanya kembali: Apakah engkau mengetahui bagaimanakah ilmu itu terangkat?: Dia menjawab: Aku tidak mengetahui. Dia menjawab: yaitu dengan kepergian wadah-wadahnya. Lalu bertanya kemballi apakah engkau mengetahui ilmu apakah yang paling pertama terangakat?. Dia melnajutkan: Berkata: Aku tidak mengetahui. Dia menjawab:  Kekhusyu’an,  sehingga  hamper  saja  engkau  tidak  melihat seorangpun yang khusyu’”.
Apabila  seseorang  yang menjalankan  shalat memasuki mesjid maka mulailah bisikan-bisikan,  pikiran-pikiran  dan  kesibukan  dengan  perkara dunia  merasuki  akal  fikirannya  dan  dia  tidak  menyadari  dirinya  dalam beribadah kecuali setelah  imam selesai dengan shalatnya, maka pada saat  itulah  dia merugi  dengan  shalatnya  yang  tidak  dikerjakan  secara  khusyu’ dan tidak pula merasakan manisnya beribadah, dia hanya gerakan-gerakan yang komat-kamit mulut sama seperti jasad yang hampa dari ruh.
Ibnul Qoyyim  raohimahullah berkata: Shalat  tanpa kekhusyu’an dan kehadiran  hati  sama  dengan  jasad  yang mati  tanpa  ruh,  apakah  seorang hamba  tidak malu  jika dia menghadiahkan kepada orang  lain sosok  tubuh yang  telah membangkaia atau seorang budak wanita yang  telah mati? Aku tidak mengira  bahwa hadiah  ini  akan memberikan nilai  penghargaan  bagi hamba  dari  orang  yang  ditujunya  baik  raja  atau  gubernur  atau  yang setingkat  dengannya.  Seperti  inilah  shalat  yang  hampa  dari  rasa  khusyu’ dan kehadiran hati serta semangat pengbadian kepada Allah, sama seperti hamba  atau  budak  wanita  yang mati  yang  akan  dipersembahkan  kepada raja,  maka  Allah  pasti  tidak  menerimanya  sekalipun  perbuatan  itu menggugurkan  kewajiban  hukum  duniwai,  dan  Allah  tidak  akan memberikan pahala dengannya, sebab sesungguhnya seorang hamba  tidak akan mendapatkan  pahala dari  shalatnya  kecuali  ibadah  yang  dikerjakan secara  khusyu’.
Sebagian  mereka  berkata:  Sesungguhnya  dua  orang  lelaki  berada  dalam suatu shalat namun keduanya berada dalam perbedaan  yang  sangat  jauh sama seperti jauhnya langit dan bumi”.
Dari  Ammar  bin  Yasir  ra  bahwa  Nabi  Shallallahu 'Alaihi Wassalam  bersabda:  bahwa  sungguh seseorang  selesai  menunaikan  shalatnya  namun  dia  tidak  mendapatkan pahala dari shalatnya  itu kecuali sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, atau  seperdelapannya,  atau  sepertujuhnya,  atau  seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya”.
Kekhusyu’an  dalam  shalat  akan  terjadi  pada  orang  yang mengkhususkan hatinya  untuk  shalat  tersebut,  hatinya  tertuju  kepadanya  bukan  kepada yang  lain  dia  lebih  mengutamakannya  atas  urusan  yang  lain,  pada  saat seperti  itulah shalat menajdi penyejuk mata. Dari Anas Radhiallahu'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam  bersabda:  Diberikan  kepadaku  dari  perkara  dunia  adalah  senang  kepada wanita dan minyak wangi dan ketentraman ada pada shalatku”
Bahkan  jika Nabi  Shallallahu 'Alaihi Wassalam ditimpa kesusahan  oleh  suatu perkara maka beliau mendirikan  shalat  dan  beliau  Shallallahu 'Alaihi Wassalam  bersabda:  Bangkitlah  wahai  Bilal  dan tenangkanlah kita dengan shalat”.
Di antara kiat-kiat agar seseorang khusyu’ dalam shalatnya adalah:
Pertama: Seseorang muslim harus menghadirkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada saat  shalatnya  tersebut,dia berdiri di hadapan Penakluk  langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  “Dan  mereka  tidak  mengagungkan  Allah  dengan  pengagungan  yang semestinya  padahal  bumi  seluruhnya  dalam  genggaman-Nya  pada  hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Zumar: 67)
Kedua: Seorang muslim harus melihat ke arah  tempat sujudnya dan  tidak menoleh kea rah manapun saat shalatnya. Dari ABI Dzar Radhiallahu'anhu bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: Allah senantiasa menghadap kepada hambaNya pada saat dirinya mendirikan shalat selama dia  tidak menoleh, maka  apabila  dia memalingkan wajahnya maka  Allah-pun berpaling darinya”.
Ketiga: Mentadabburi Al-Qur’an dan  zikir-zikir yang dibacanya saat shalat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  “Maka  apakah mereka  tidak memperhatikan Al Qur’an  ataukah  hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Apabila seorang muslim mentadabburi zikir-zikir pada saat dia ruku’, sujud dan yang  lainnya maka hal  itu akan  lebih berpengaruh bagi hati dan  lebih cepat mendatangkan kekhusyu’an.
Keempat: Mengingat  kematian  saat  shalat. Dari  Abi  Ayyub  Radhiallahu'anhu  bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam  bersabda:  Apabila  engkau  mendirikan  shalat  maka  maka  shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah”.
Kelima:  Hendaklah  seorang muslim mempersiapkan  dirinya  untuk  shalat, jangan  sampai  dia  shalat  dalam  keadaan  menahan  sakit  perut  atau menahan  kencing  atau  shalat  di  hadapan makanan  yang  terhidang.  Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: Tidak boleh shalat di hadapan makanan dan tidak pula boleh shalat saat dia menahan dua hal yang buruk (menahan kencing dan buang air besar)”.
Dan  hendaklah  pula  dia  menghilangkan  segala  sesuatu  yang  bisa menyebabkan  dirinya  lalai  dari  shalatnya  seperti  hiasan-hiasan,  gambar-gambar dan yang sepertinya. Dari Aisyah Radhiallahu'anhu berkata:Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam shalat mengenakan  pakian  jenis  khomishah  yang  memiliki  garis-garis  lalu  saat shalat beliau melirik kepada garis-garis yang ada padanya maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: Kembalikanlah kain khomisah ini kepada Abi Jahm bin Hudzaifah dan  berikanlah  kepadaku  kain  jenis  anbijani  sesungguhnya  dia  tadi  telah melalaikanku dalam sholatku”.
Keenam: Berusaha mengarahkan  jiwa agar dia bisa khusyu’ dalam  sholat. Khusyu’ bukan perkara yang mudah maka seseorang mesti harus bersabar dan berusaha. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  “Dan orang-orang yang berjihad untuk  (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami  tunjukkan Kepada mereka  jalan-jalan Kami. Dan  sesungguhnya Allah  benar-benar  beserta  orang-orang  yang  berbuat  baik.” (QS.  Al – Ankabut: 69)
Usaha yang terus menerus dan kesungguh-sungguhan akan mempermudah orang mendapatkan kekhusyu’an.
Ketujuh: Menghadirkan  di  dalam  jiwa  pahala  yang  akan  didapatkan  oleh orang  yang  khusyu’  di  dalam  shalat.  Dari  Utsaman  Radhiallahu'anhu  bahwa  Nabi  Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: Tidaklah seorang muslim yang di datangi oleh shalat yang wajib, kemudian  dia  baik  dalam  melaksanakan  wudhu’,  menhadirkan  kekhusyu’an dan ruku’   maka dia akan menjadi penghapus bagi dosa-dosa yang  telah dikerjakan  sebelumnya,  selama dia  tidak pernah berbuat dosa-dosa besar dan hal itu terjadi selama sepanjang masa”.
Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam adalah orang yang paling banyak khusyu’nya di dalam shalat. Abdullah bin Al-Syikkhir berkata: Aku melihat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam mendirikan shalat dan  di  dalam  dada  beliau  terdengar  isak  tangis  seperti  suara  gesekan penggiling tepung karena menangis”.
Dan Abu Bakr adalah seorang  lelaki yang banyak menangis dikala shalat sehingga  dia  tidak  bisa  memperdengarkan  suara  bacaannya  pada  saat sholat mengimami  orang.  Dan  Umar  Radhiallahu'anhu,  pada  saat  dia mengimami  orang dalam shalatnya dan membaca surat Yusuf maka  isak  tangisnya  terdengar sampai pada akhir saf dan dia membaca: “Dan  Yakub  berpaling  dari mereka  (anak-anaknya)  seraya  berkata:  “Aduhai duka  citaku  terhadap  Yusuf”,  dan  kedua  matanya  menjadi  putih  karena kesedihan  dan  dia  adalah  seorang  yang  menahan  amarahnya  (terhadap anak-anaknya).” (QS. Yusuf: 84.18)
Ibnul  Qoyyim  rahimhullah  berkata:  Manusia  di  dalam  masalah  shalat terbagi menjadi beberapa tingkatan:
Pertama:  Tingkatan    orang  yang  zalim  terhadap  dirinya  sendiri  dan  lalai dengan  shalatnya.  Dialah  orang  yang  shalat  dengan  wudhu’  yang  tidak sempurna,  shalat  tidak  pada    waktunya,  batas-batasnya  dan  tidak menyempurnakan rukun-rukunnya.
Kedua:  Orang  yang  semata-mata  menjaga  waktu,  batas-batas  shalat  dan rukun-rukunnya  yang  lahiriyah  dan  menjaga  wudhu’.  Namun  dia  tidak berusaha  melawan  bisikan-bisikan    maka  dia  terhanyut  dalam  bisikan-bisikan dan pikiran-pikirannya di dalam shalat.
Ketiga: Barangsiapa yang menjaga batas-batas shalat dan rukun-rukunnya, dan  bersungguh-sungguh  mengarahkannya  jiwanya  dalam  melawan bisikan-bisikan  dan  fikiran-fikiran  yang  menggoda  di  dalam  shalatnya, maka  dengan  hal  tersebut  sesungguhnya  dia  telah  menyibukkan  dirinya dalam menghadapi musuhnya agar musuhnya itu tidak mencuri shalatnya, maka dengan seperti ini dia berada dalam sholat dan jihad.
Keempat:Orang  yang  apabila  bangkit  menunaikan  shalat  maka  dia menyempurnakan  hak-hak,  rukun-rukun  dan  aturan-atauran  shalat, hatinya dikerahkan untuk menjaga tuntutan-tuntutan shalat, agar dia tidak menyia-nyiakan  sedikitpun dari  ibadah  shalatnya, bahkan  seluruh potensi dan  semangatanya  tercurah  untuk  menyempurnakan  penegakan  shalat sebagaimana  mestinya,  maka  dengan  ini sungguh  hatinya  telah  terarah pada perkara shalat  dan ubudiyahnya kepada Allah swt.
Kelima: Orang yang bangkit menegakkan shalat dengan cara seperti di atas, bersamaan  dengan  itu  dia  hatinya  tertumpah  di  hadapan  Allah  Azza Wa Jalla,  dia  melihat  Allah  dan  menyadari  akan  pengawasan  Allah,  hatinya cinta  kepadaNya  dan  mengagungkanNya  sekan  dia  melihat  Allah,  semua bisikan  dan  lintasan-lintasan  pikiran  telah  terhapus,  telah  terangkat dinding antara dirinya dan TuhanNya, maka orang yang seperti ini di dalam perkara  shalat  lebih  utama  dan  lebih  agung  dari pada  jarak  yang memisahkan  langit dan bumi,  orang  yang  seperti  ini  sedang  sibuk dengan bermunajat kepada Tuhannya swt di dalam shalatnya. Golongan pertama akan disiksa, golongan kedua akan dihisab, golongan ke tiga menghapuskan kewajiban, golongan keempat diberi pahala, dan golongan  ke  lima mendekat  kepada    Tuhannya,  sebab  dia  termsuk  golongan  orang yang  menjadikan  shalat  sebagai  perlipur  lara  bagi  hatinya,  maka barangsiapa yang hatinya senang dengan shalatnya di dunia maka dia akan senang dengan kedekatannya kepada Allah pada hari kiamat kelak, dan dia juga  akan  senang di dunia, dan barangsiapa  yang hatinya  senang dengan Allah maka  setiap mata akan  senang dengannya namun barangsiapa yang  hatinya  tidak  senang  dengan  Allah  swt maka  jiwanya  akan  tercerai  berai atas dunia ini dengan berbagai kerugian”.
Segala  puji  bagi  Allah  Tuhan  semesta  alam,  shalawat  dan  salam kepada  Nabi  kita  Muhammad  dan  kepada  seluruh  keluarga  dan shahabatnya.
Karya: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi
Terjemah : Muzaffar Sahidu
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar