Home

September 24, 2011

Bukan Kita yang membuat Anak-Anak Bahagia, tetapi Anak-Anaklah yang membuat Kita Bahagia



Adalah merupakan fitrah bagi anak-anak untuk senantiasa riang dan bahagia, dimanapun mereka berada. Kita bisa melihat di televisi misalnya, ketika terjadi musibah banjir, peperangan (ditenda pengungsi) dan lain-lain, anak-anak senantiasa riang gembira bermain bersama teman-temannya, seolah-olah mereka tidak perduli, dimanapun mereka tinggal. Ketika rumah dan daerahnya kebanjiran, mereka asyik berenang dan bermain dengan teman-temannya. Ketika ditempat pengungsian, merekapun asyik bermain riang gembira bersama teman-teman (baru) nya.

Jadi dimanapun mereka berada, tidak peduli apakah ditempat pemukiman yang mewah atau tempat kumuh, mereka senantiasa riang dan bahagia bermain dengan teman-temannya.Kita yang menyaksikan mereka tertawa gembira, terimbas pula kebahagiaan yang mereka ciptakan. Coba perhatikan matanya yang menyorot dengan tulus kepada kita, ketika kita mengajaknya bicara. Senyumnya yang selalu ikhlas kepada kita. Tidak pernah mereka berpura-pura kepada kita. Mereka tidak pernah mengungkapkan perasaannya dengan berpura-pura. Tidak ada kemunafikkan, kebohongan dan kelicikkan ketika kita melihatnya. Mereka berkata apa adanya, tersenyum apa adanya dan apapun yang ada pada perasaan mereka akan mereka ungkapkan dengan kepolosan yang murni.

Bukan kita yang membuat anak-anak bahagia, tetapi anak-anaklah yang membuat kita bahagia

Ketika mereka bertengkar dengan teman-temannya, sehebat apapun pertengkarannya, pasti akan berakhir dengan perdamaian. Tidak ada dendam dalam diri mereka. Coba perhatikan ketika seorang anak bertengkar karena memperebutkan mainan dengan temannya. Walaupun pertengkaran yang terjadi sedemikian hebatnya, ketika kita memisahkannya, sejurus kemudian mereka berdamai kembali, mereka lupa telah bertengkar hebat sebelumnya.

Bandingkan dengan kita! Kita kalah oleh mereka! Ketika kita bertengkar karena kesalahpahaman, maka walaupun sudah bermaaf-maafan, masih tersisa di hati kita perasaan dendam, yah… minimal perasaan tidak enak, gamang dan lain-lain ketika kita bertemu dengan orang yang pernah bertengkar dengan kita. Kita harus belajar dari mereka, belajar memaafkan dan belajar berdamai.

Bukan kita yang mengajarkan cara memaafkan kepada anak-anak, tetapi merekalah yang mengajarkan cara memaafkan kepada kita.


Kita tidak akan bisa mengalahkan stamina anak-anak. Energi mereka seolah-olah tidak ada habisnya. Mereka bisa bermain, berlari-larian, kejar-kejaran, pagi, siang bahkan malam hari, seolah-olah tanpa merasa letih. Kita akan letih kalau menemani mereka. Energi mereka terletak pada kepolosan mereka, keingintahuan yang besar, keceriaan, kebahagiaan, daya khayal mereka yang tinggi, dan terutama kebersihan perasaan mereka. Tidak ada siasat busuk, ambisi duniawi berupa keinginan harta atau jabatan dan kedudukan. Tidak ada itu semua! Inilah sumber energi terbesar mereka. Kita harus belajar dari mereka, bagaimana menjadikan itu semua sebagai sumber energi kita, sehingga kita bisa beraktifitas (beramal sholih) tanpa merasa letih dan bosan.

Bukan kita yang mengajarkan bagaimana hati yang bersih itu kepada anak-anak, tetapi merekalah yang mengajarkan bagaimana hati yang bersih itu kepada kita.

Mereka adalah makhluk tanpa dosa. Mungkin mereka melakukan kesalahan. Tetapi itu biasanya karena mereka tidak tahu, atau mungkin mereka sedang belajar. Belajar untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Belajar untuk mengetahui bagaimana reaksi kita (orang tua) terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Tetapi sebesar apapun kesalahan mereka Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan meminta pertanggung-jawaban kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan mencatatnya. Beda dengan kita. Kalau mereka melakukan kesalahan, kita langsung menghukumnya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak. Bagaimana kita disebut orangtua yang bijak, kalau Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Bijaksana saja tidak menghukumnya? Apa hak kita menghukumnya, padahal mereka bukan milik kita, tetapi milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita hanya dititipi. Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan mereka untuk kebahagiaan kita, bukan kita yang menciptakan mereka.

Tetapi kadang kita menghukumnya dengan alasan untuk mendidik mereka. Padahal didikan yang terbaik adalah dengan lemah lembut dan santun. Ajaklah dan bimbinglah mereka dengan cara yang baik, lemah lembut, dan dialog yang baik, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajarkan kita untuk bersikap seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Musa 'Alaihi Sallam untuk berda’wah kepada Firáun yang kejam dengan cara yang lemah lembut. Kepada Fir'aun yang dzalim saja harus lemah lembut, apalagi kepada anak-anak.


Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar