Home

Mei 07, 2011

Mendidik Anak Agar Tidak Boros


“Mencegah adalah lebih baik daripada mengobati”
“Sedia payung sebelum hujan”
Kedua ungkapan di atas merupakan dua buah kalimat sederhana yang mengandung satu makna. Jika diaplikasikan dengan baik, maka insya Allah akan dapat memberikan manfaat yang sangat baik dalam bidang apapun. Kedua ungkapan di atas juga senada dengan wasiat Rasulullah saw yang berbunyi :
“Bekerjalah untuk duniamu sebanyak-banyaknya, seolah-olah engkau akan hidup untuk selama-lamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu, seolah-olah engkau akan mati besok”. (HR. Ahmad-Attirmidzi).

Dalam hal ini, di dalam Al Quran Allah swt juga telah mengingatkan kepada kita dalam surat Al Hasyir ayat: 18, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhna Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan”. QS. 59:18.
Baik kedua ungkapan, hadits, dan ayat di atas memiliki pokok permasalahan yang sama, insya Allah. Semua berbicara masalah pentingnya sebuah persiapan, atau perencanaan. Sedangkan kalimat “pentingnya sebuah persiapan atau pentingnya sebuah perencanaan” tentu saja memilki makna yang sangat luas. Namun, disini kami hanya membatasi makan kalimat tersebut dalam “bagaimana merencanakan masa depan anak kita agar tidak terbiasa hidup boros”.
Banyak sekali diantara kita yang suka meremehkan atau hanya memandang sebelah mata terhadap sesuatu yang tampaknya kecil dihadapan maupun didalam benak kita. Jarang sekali diantara kita yang mau memikirkan atau merenungkan tentang apa yang dapat diakibatkan oleh sesuatu yang kita anggap sepele tersebut. Jarang sekali diantara kita yang berpikir apakah hal yang sepele tersebut mampu menimpakan malapetaka suatu saat nanti? Jarang sekali orang-orang yang mau berpikir demikian, karena biasanya pemikiran mereka sudah terlebih dahulu terkontaminasi dengan kalimat “Ah Cuma gitu aja, nanti juga hilang sendiri…”, sehingga hilanglah kemauan kita untuk berpikir lebih kritis dan lebih kedepan. Bahkan, ketika ada seseorang yang mampu berpikir secara kritis, biasanya malah menjadi bahan ejekan, “Sensi banget sih! Gitu aja kok repot!…” dan segudang kalimat olokan lainnya. Padahal mereka nggak pernah tahu seandainya hal yang mereka anggap sepele itu benar-benar akan membuat mereka repot di masa yang akan datang. Karena, kecil dalam pandangan kita, belum tentu kecil dalam pandangan Allah.
Itulah mengapa kita sangat perlu untuk mendidik anak kita sejak dini agar tidak terbiasa hidup boros. Karena pendidikan sejak dini-lah yang insya Allah akan mudah melekat dan akan terbawa erat sebagai kepribadian yang mantap dikala dewasa. Seperti kata pepatah, “Belajar di usia muda seperti mengukir di atas batu, dan belajar diusia tua seperti mengukir di atas air”. Mendidik anak agar tidak boros sejak dini, meskipun sulit dan dengan langkah yang sedikit demi sedikit, namun insya Allah akan memberikan hasil yang tidak akan mudah hilang, dan inilah yang akan terbentuk sebagai kepribadian yang mantap. Inilah salah satu bentuk perencanaan kita untuk masa depan anak kita.
Setiap orang tua, biasanya memiliki cara yang berbeda dalam memberikan pemahaman kepada anaknya agar tidak boros. Ada yang dengan lembut, ada pula yang dengan keras. Semua tergantung pada kepribadian orang tua itu sendiri. Namun, perlu diketahui bahwa seorang anak akan lebih ikhlas dan manut apabila pendidikan itu dapat diberikan dengan cara yang selembut mungkin. Lembut namun tegas, maksudnya adalah kita tetap tidak boleh mentolerir kesalahan atau pelanggaran pendidikan yang telah diberikan. Dalam hal ini, orang tua dapat memberikan hukuman tergantung pada tingkat kesalahannya. Hukuman teringan dapat dilakukan melalui teguran, sedangkan hukuman yang lebih berat tetap harus didasari dengan tujuan mendidik (hukuman yang mengandung unsur pendidikan), misalnya dengan menghafal beberapa ayat Al Quran, sebuah surat Al Quran, hadits, membersihkan kamar mandi, dan sebagainya dalam waktu sekian hari. Jenis hukuman inipun harus disesuaikan dengan usia si anak. Berikut ini adalah beberapa kiat lembut, yang dapat kita coba untuk memberikan pemahaman kepada anak agar tidak terbiasa hidup boros:
  • Berikan penjelasan yang singkat dan mudah dimengerti oleh anak bahwa Allah swt sangat tidak menyukai orang-orang yang memiliki sifat boros, sebagaimana tercantum dalam QS. At Takatsur : 1. Dalam hal ini, yang tentunya tidak boleh kita lupakan adalah terlebih dahulu mengenalkan anak pada Allah dan sifat-sifat-Nya.
  • Berikan cerita-cerita yang menyentuh dan memotivasi tentang bagaimana menderitanya orang-orang yang tidak memiliki uang, yang miskin, yang kelaparan karena tidak mampu membeli makanan. Ajarkan untuk memberikan sisa uang kepada mereka, daripada untuk membeli hal-hal yang tidak bermanfaat.
  • Biasakan untuk memberikan uang jajan secukupnya. Dalam hal ini, orang tua tetap boleh memberikan tambahan atau hadiah atas sebuah keberhasilan yang telah dicapai oleh anaknya, misalnya ketika mendapat juara kelas, dan sebagainya.
  • Ajarkan kepada anak untuk menyisihkan dan menabung sebagian uang jajannya. Berikan pemahaman, bahwa dengan menabungkan sedikit sisa uang jajan, kita akan dapat membeli barang-barang yang kita inginkan.
  • Berikan penjelasan bahwa orang tua tidak akan selamanya mampu mencari uang. Ada kalanya mereka sakit atau meninggal sehingga tidak mampu lagi untuk mencari uang, untuk si anak.
  • Dan yang tentunya tidak boleh kita lupakan dan harus kita lakukan sebagai orang tua adalah, selalu menjadi teladan bagi si anak.
Sesungguhnya, kewajiban manusia hanyalah tetap berusaha, sedang hasil akhir hanyalah Allah yang berhak dan berkuasa untuk menetapkannya. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.
Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar