Home

Juli 04, 2012

Nasionalisme Bule untuk Indonesia



Menyaksikan acara Kick Andy di Metro TV, Jumat (9/12) telah mengubah persepsi saya tentang nasionalisme. Sebelumnya, pikiran sempit saya membatasi semangat nasionalisme Indonesia itu hanya untuk warga negara Indonesia saja. Namun, setelah menyaksikan komitmen orang-orang “bule” yang mengabdikan dirinya untuk Indonesia dengan cara sederhana namun bermanfaat luas di acara itu, mata saya terbuka.

Nasionalisme Indonesia ternyata tidak dikungkung oleh latarbelakang di negara mana kita dilahirkan atau dibesarkan. Juga tidak ditentukan oleh latarbelakang dimana kita tercatat secara sah dalam administrasi kewarganegaraan suatu negara. Nasionalisme itu ternyata wujudnya sangat sederhana. Yaitu dengan mencintai dan memberi yang terbaik bagi negeri ini.


Komitmen itu pulalah yang menumbuhkan rasa cinta Chanee pada Indonesia. Sehingga ia terdorong untuk menjadi warga negara Indonesia. Namun sayang, dengan berbagai upaya positif yang telah ia tunjukkan di negeri ini, keinginan itu belum juga terwujud. “Lebih mudah menjadi WNI dengan menjadi pesepakbola,” ujarnya saat itu. Ungkapan itu entah bekelakar atau mengkritik pemerintahan biarlah Chanee yang tahu.

Di Pulau Sumatera lain lagi. Nasionalisme itu muncul dalam diri wanita asal Jerman, Anette. Wanita ini mengaku langsung jatuh cinta ketika memandang Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara. Kecintaannya itu tidak sekedar ditunjukkan dengan menikmati panorama danau yang konon terbentuk dari letusan gunung di zaman purba ribuan tahun lalu. Namun, Anette yang telah menyandang boru Sialagan itu mengabdikan hidupnya untuk kebersihan Danau Toba.


Nasionalisme semacam itulah yang ditunjukkan Chanee pada Indonesia. Didorong oleh semangatnya melindungi owa-owa (binatang sejenis monyet), ia rela meninggalkan tanah kelahirannya, Perancis Selatan dan tinggal di pedalaman Kalimantan. Bayangkan saja, Chanee yang waktu itu masih berusia 16 tahun nekat-kalau boleh dikatakan nekat- meninggalkan tempat yang menyuguhkan modernitas lalu hidup di desa yang masih dikelilingi hutan belantara.

Di Kalimantan, Chanee membuat lembaga khusus untuk melindungi hewan khas daerah. Ia juga merangkul dan mengorganisir masyarakat tempatan untuk memberi perhatian pada hewan. Hatinya juga tak senang ketika melihat ada hewan di Kalimantan yang dibantai untuk kepentingan industrial kelapa sawit yang katanya justru tak ramah pada keanekaragaman hayati negeri ini.

Ia dikenal aktif membersihkan danau dari serbuan tanaman eceng gondok yang berdampak buruk bagi ekosistem di dalam air. Ia juga terlibat aktif menginisiasi gerakan sosial untuk tidak membuang sampah ke danau. Karena sikap buruk itulah yang membuat Danau Toba kotor dan tercemar. Tak cukup sampai disitu, Anette juga ingin sekali menjadi bagian utuh bagi negeri ini dengan menjadi WNI. Tapi, meski harapan itu belum terwujud, ia bertekad menghabiskan sisa hidupnya di dan untuk Danau Toba.

Di Indonesia bagian timur, Andre Graff rela meninggalkan kesenangan hidupnya sebagai Instruktur balon udara dan pemilik perusahaan pariwisata asal Perancis demi mengecap penderitaan masyarakat di Pulau Sumba. Hatinya tersentak dengan aktivitas ibu-ibu yang berjalan mendaki demi mendapatkan air. Lalu dengan komitmen yang kuat, Andre menunjukkan rasa cintanya pada negeri ini dengan membuat sumur bagi masyarakat Sumba. Bahkan, dengan keyakinan itu, kini sudah 25 sumur yang berhasil ia hadirkan di Kabupaten Sumba Barat.




Andre memang belum berniat menjadi WNI. Tapi, mimpinya mewujudkan Sumba menjadi daerah yang berkembang dengan tenang sudah menunjukkan, bahwa Andre telah mencintai negeri ini. Karena mencintai Sumba sama dengan mencintai Indonesia.

Lalu bagaimana dengan kita? Sebagai anak bangsa yang terlahir dan dibesarkan di Indonesia, sudahkan kita memberi yang terbaik untuk negeri ini? Pernahkan kita merasa tersentak melihat sesuatu yang salah di negeri ini lalu terdorong untuk memperbaikinya? Atau kita masih menjadi bagian dari orang-orang yang merasa salut dengan jalan hidup yang dipilih Chanee, Anette dan Andre tapi enggan meneladaninya.

Mereka yang terlahir di negeri “seberang” sudah menyentil rasa nasionalisme kita dalam kontek kecintaan dan kepedulian. Bahwa negeri ini belum sempurna dan butuh partisipasi anak bangsa untuk menopangnya. Masih ada harapan untuk Indonesia.

menurut ane kita sebagai warga negara indonesia,harusnya lebih mencintai indonesia,menjaga alam,kebudayaanya,jadi jangan selalu mengagung2kan luar negri,malulah kita sama bule2..ini yang sangat cinta sama indonesia
Bagaimana dengan agan,masih cinta kah sama indonesia,apa lebih bangga menjadi negara lain..???

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar