Home

Maret 04, 2011

Kisah Mengharukan Seorang Gadis Kecil


Hidupnya teramat singkat, hanya 10 tahun. Namun cobaan yang dilalui Zahra Baker, membuat dunia menitikkan air mata untuknya. Seperti apa kisahnya?

Gadis cilik ini tinggal di Queensland, Australia, sebelum akhirnya pindah ke North Carolina, AS, dua tahun lalu. Zahra ikut bersama ayahnya, Adam Baker, yang baru saja berkenalan dengan perempuan Amerika via internet. Ibu biologis Zahra, Emily Dietrich, terkena depresi pasca melahirkan yang membuatnya tanpa disadari menolak keberadaan bayi.

Hal ini bukanlah penderitaan pertama yang ia alami. Ia divonis mengidap kanker tulang saat masih balita. Dokter pun terpaksa mengamputasi salah satu kakinya saat Zahra tepat ketika Zahra berusia lima tahun. Tak lama kemudian, tim medis menemukan tumor di paru-parunya. Berbagai penyakit ini menuntutnya untuk selalu mengikuti kemoterapi.

Efek kemoterapi muncul saat ia berusia delapan tahun. Zahra kehilangan pendengarannya. Meski begitu, ia masih tumbuh menjadi gadis kecil yang aktif. Beberapa kawannya mengatakan, ia suka menghadiri berbagai acara untuk anak-anak pengidap kanker. Termasuk di antaranya, perkemahan yang biasanya digelar pada musim panas.

Nama Zahra mulai dikenal media Amerika sejak 9 Oktober lalu. Ketika itu, polisi mendapat laporan bahwa gadis dengan wajah berbintik-bintik ini menghilang. Di tengah penyelidikan, polisi menduga ia telah tewas. Sebab, ditemukan tulang belulang sekitar 12 km dari rumahnya yang diyakini milik Zahra. Sebab, juga ditemukan kaki prosterik yang biasa ia gunakan.

"Sejak awal penyelidikan dimulai, saya sudah gemetar. Kami menemukan banyak bukti fisik bahwa kemungkinan Zahra telah ditemukan dalam kondisi tewas," ujar Kepala Kepolisian Hickory North Carolina, Tom Adkins. Tulang belulang itu ditemukan awal bulan ini, di daerah semak belukar Caldwell County. 

Zahra tinggal di daerah tersebut bersama ibu tirinya, Elisa Baker, yang saat ini sedang berada di penjara. Elisa ditahan karena diduga membelokkan penyelidikan polisi dengan catatan penculikan palsu. Sementara Adam, saat itu juga ditahan di penjara atas tindak kriminal yang tak ada hubungannya dengan Zahra dan sudah dibebaskan dengan jaminan.

Elisa lama kelamaan ikut membantu penyelidikan polisi yang mencurigai pasangan ini ada hubungan dengan hilangnya Zahra. Sebab, polisi kesulitan menemukan orang lain yang melihat Zahra dalam keadaan hidup. Pada hari yang sama, beberapa jam sebelum Zahra benar-benar menghilang, ada sebuah kejadian aneh.

Terjadi kebakaran di rumah keluarga Baker dan pasangan tersebut mengaku menemukan surat penculikan. Surat itu berisi penculikan putri atasan Adam dan meminta tebusan. Setelah penyelidikan, pimpinan Adam dan putrinya dalam keadaan baik-baik saja. Akhirnya Elisa mengaku ia iseng menulis surat itu yang berbuntut denda polisi atas tudingan mempermainkan hukum.

Tak lama, Zahra menghilang dan polisi merasa ada yang salah. Kasus pencarian gadis hilang ini kemudian diubah menjadi penyelidikan pembunuhan. Langkah ini terbukti benar. Sumber menyebutkan, Elisa membimbing polisi ke area semak belukar, dimana ditemukan kaki prostetik Zahra. 

Di sekitar tempat yang sama, ditemukan tulang belulang yang dalam uji DNA terbukti milik Zahra. Sisa tulang ditemukan setengah tertanam. Polisi kemudian melakukan penggalian dan ditemukan sisa-sisa tubuh manusia dalam sebuah lubang yang tidak terlalu dalam. "Ahli medis di lapangan menyatakan, tulang tersebut cocok dengan seorang anak," kata Adkins.

Adam saat ini masih dimintai keterangannya di polisi, sementara penyelidikan DNA terus dilakukan untuk tulang belulang yang terpisah-pisah itu. Sementara Elisa juga diselidiki, meski isi pembicaraannya masih belum boleh dipaparkan ke media. Elisa dicurigai karena menulis surat kepada seorang pengelola situs kriminal yang menuding Adam.

"Penyelidik, agen, petugas dan staf yang bekerja untuk kasus ini sangat sedih karena tak berhasil menemukannya dalam keadaan hidup dan membawanya pulang. Hari ini, kita semua berduka," sambung.


Sumber :
Lintas Berita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar